Modernis.co, Jakarta – Masyarakat tidak menyadari bahwa negara Indonesia saat ini menjadi negara penyumbang sampah plastik terbesar ke 2 di dunia. Seperti yang diketahui, sampah plastik menjadi sampah yang paling banyak dijumpai dan sulit untuk diuraikan. Sampah plastik membutuhkan waktu yang sangat lama kurang lebih sekitar 1000 tahun untuk bisa diuraikan.
Penumpukan sampah plastik terus akan meningkat setiap tahunnya. Apabila tidak dapat di tindak lanjuti dengan baik, maka sampah plastik akan terus menumpuk menjadi limbah yang tercemar dan jika terus menerus meningkat maka yang terjadi penumpukan sampah yang mengakibatkatn pencemaran lingkungan.
Harapan bagi penerapan trend Eco Green untuk bisa menyadari tentang dampak sampah plastik bagi lingkungan dan sekaligus menjadi wadah kesadaran masyarakat bahwa sampah plastik yang digunakan bisa menyebabkan pencemaran lingkungan dan berdampak buruk bagi kesehatan lingkungan. Dengan menggunakan konsep ramah lingkungan yang di kenal dengan trend Eco Green bisa mengurangi kapasitas sampah plastik yang menumpuk dan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan.
Kantong plastik semakin menjadi sorotan di dunia, yang menyebabkan banyak masalah yang ditimbulkan oleh kantong plastik. Jumlah sampah plastik Indonesia yang besar, hingga naik menjadi 187,2 juta ton, mendorong Indonesia menjadi penghasil sampah plastik laut terbesar kedua setelah China dengan jumlah 262,9 juta ton. Hal tersebut terbukti berdasarkan data Jambeck. (Tri Wahyuni: 2016).
- baca juga: Sampah Plastik: Ancaman atau Keuntungan?
Menumpuknya sampah di masyarakat membuat keresahan pemerintah dan masyarakat dengan berbagai faktor yang menyebabkan munculnya sampah tersebut. Banyaknya sampah plastik yang tercemar dan terus menumpuk bisa dilihat dari aktivitas masyarakat yang masih sering menggunakan sampah plastik sebagai media penggunaan alat kemasan sehari-hari. Sampah plastik yang terdiri dari kemasan air mineral, kemasan minuman kekinian, tas belanja di supermarket, hingga kemasan makan seperti styrofoam yang sampai sekarang masih banyak digunakan.
Dan sampah plastik yang bersifat anorganik ini sulit diuraikan bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya untuk bisa terurai. (Satria Y:2, 2020). Masih tingginya penggunaan kantong plastik merupakan bentuk ketidaksadaran, dan ketidakpedulian terhadap kenyataan bahwa kantong plastik membutuhkan waktu lama untuk terurai. Meski beberapa postingan meyakinkan telah menunjukkan penelitian tentang efek negatif penggunaan kantong plastik.
Salah satunya adalah dapat menyebabkan kerusakan alam, karena proses penguraiannya memakan waktu yang cukup lama, namun hal tersebut tidak membuat masyarakat sadar akan kenyataan tersebut sehingga penggunaan sampah plastik terus- menerus dilakukan tanpa ada keinginan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik tersebut. (Gumelar: 2018).
Pemahaman Mengenai Eco Green
Eco Green adalah suatu gerakan atau tindakan yang dilakukan oleh masyarakat dalam upaya pelestarian dan pengelolaan lingkungan untuk memperbaiki, menjaga serta meminimalisir terjadinya kerusakan pada lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia yang tidak menyadari bahwa kegiatan yang dilakukan memiliki dampak buruk bagi lingkungan. (Wadu: 2020).
Konsep Eco Green kini mulai banyak dikenal dan sudah tidak asing di kalangan masyarakat. Konsep ini tidak hanya diterapkan disekolah saja, tetapi mulai banyak digunakan di berbagai tempat wisata, villa, hotel, rumah dan pusat perkantoran. Gerakan Eco Green adalah suatu bentuk kesadaran terhadap masyarakat yang mengarah pada kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan, namun jika konsep tersebut tidak tercapai, maka dapat dilakukan dengan cara paksaan dan dorongan yang kuat untuk melakukan program tersebut kepada masyarakat. (Lesmana: 2019).
- baca juga: Relasi Manusia dan Alam Perspektif Islam
Eco Green sendiri merupakan gerakan berkelanjutan yang mengupayakan kepedulian terhadap lingkungan atau suatu bentuk konsep yang mengedepankan ramah lingkungan dan penggunaan material ramah lingkungan yang efektif dan efisien untuk mengarahkan masyarakat agar lebih tegas tentang penggunaan sampah plastik yang terus-menerus dilakukan. Dan pengenalan bahan bahan ramah lingkungan yang biasa disebut dengan Eco Friendly.
Upaya ini harus dilakukan secara cerdas dan tegas untuk mengubah limbah plastik yang tidak berguna menjadi komoditas atau produk yang bermanfaat, yaitu dengan mengurangi dan meminimalkan penggunaan sampah plastik, dimana penggunaan sampah plastik sudah melekat di masyarakat. (Harimbi dan Satria: 2020).
Faktor Terjadinya Penumpukan Sampah Plastik
Plastik saat ini menjadi bahan yang melekat erat dengan kehidupan manusia. Hampir semua kegiatan masyarakat pasti menghasilkan sampah terutama sampah plastik yang menimbulkan penumpukan dan terjadinya pencemaran. Sampah plastik dihasilkan mulai dari hal-hal kecil yang dilakukan oleh manusia seperti pembungkus makanan menggunakan bahan plastik, kantong pembelian rata-rata saat ini juga menggunakan bahan plastik hingga peralatan rumah tangga dominan menggunakan plastik.
Oleh karena itu, padatnya aktivitas manusia membuat ketidaksadaran mengenai jumlah plastik yang dihasilkan setiap harinya. (Farin: 2021). Dan secara umum sumber sampah di perkotaan sangat erat kaitannya dengan penggunaan lahan yang berkembang yaitu tempat pembuangan akhir (TPA). Limbah ini dapat di kategorikan sebagai penghasil sampah yang muncul, yaitu; lembaga, usaha, perkantoran, pembangunan, industri, perdagangan pertanian dan perkebunan serta unit pengolahan. (Nurhayari: 2013).
Plastik dihasilkan dari banyak tempat yaitu sampah dari masyarakat dan pemukiman serta tempat umum seperti pedagang dan lain-lain. Ini bukti bahwa manusia masih belum memiliki kesadaran penuh mengenai kepedulian lingkungan yang mana masih menyepelekan kebersihan dan dampak dari hal tersebut. Alhasil yang terjadi adalah penumpukan sampah di tempat-tempat umum seperti pasar dan tempat keramaian lainnya yang banyak beraktivitas menjadi hal yang biasa di jumpai di Indonesia.
Setiap hari keadaan semakin memburuk karena meningkatnya penumpukan sampah, pencemaran air, panas yang baru-baru ini telah menyebabkan banyak tanaman tumbang, dan hujan telah membanjiri banyak jalan, menyebabkan banyak korban pertanian perumahan hanyut ke air. Sebagai orang yang hidupnya tidak bisa lepas dari alam, sudah selayaknya memahami kondisi yang ada. Dengan menyadari pentingnya menjaga lingkungan sedini mungkin, dan tidak mengikuti kebiasaan wisatawan yang mencemari lingkungan tanpa mempertimbangkan akibat dari tindakan mereka. (Taufiq: 2014).
Jika masyarakat tidak peduli dengan lingkungan, maka, mereka harus mulai dan menunjukkan ketika mereka melihat sampah, dan masih banyak pekerjaan yang dapat dilakukan untuk menjaga keindahan daerah tersebut terhadap lingkungan sekitar. Pertambahan penduduk, perubahan kebiasaan konsumsi dan gaya hidup masyarakat telah meningkatkan timbunan sampah, karakteristik dan keanekaragaman sampah.
- baca juga: Menyoal Krisis Ekologi
Jumlah dan kualitas sampah yang dihasilkan juga sangat dipengaruhi oleh tumbuhnya daya beli masyarakat terhadap berbagai bahan pangan pokok dan produk teknologi, serta tumbuhnya usaha atau kegiatan yang mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah. Meningkatnya jumlah sampah memerlukan penanganan. Pengelolaan sampah yang tidak menggunakan cara dan teknik pengelolaan sampah yang ramah lingkungan tidak hanya berdampak negatif bagi kesehatan, tetapi juga sangat mengganggu kelestarian fungsi lingkungan hidup di kawasan pemukiman, penduduk.
Pengaruh Positif Penerapan Eco Green bagi Masyarakat
Penerapan trend Eco Green yang mulai muncul di masyarakat membuat banyak yang menyadari bahwa kelestarian alam dan kebersihan lingkungan menjadi bagian yang penting dalam menjaga kesehatan lingkungan. Dengan di laksanakannya trend Eco Green bagi masyarakat salah satunya mengganti dan mendaur ulang sampah plastik mampu memberikan perubahan yang signifikan terhadap lingkungan.
Salah satunya yaitu mengurangi polusi, meminimalisir pencemaran lingkungan, dan mengurangi penumpukan sampah plastik yang terjadi akhir akhir ini. (Farin: 2021) Dengan konsep Eco Green yang di laksanakan masyarakat dapat Membangun kesadaran masyarakat terhadap kesehatan lingkungan bukan hal yang serta merta dibutuhkan dalam jenjang pendidikan, tetapi hal tersebuat sangat penting untuk memelihara lingkungan.
Kebiasaan sehari hari dalam menjaga tercemarnya lingkungan seperti menumpuknya sampah plastik juga membuat masyarakat menjadi tahu pentingnya membuang sampah dengan benar, memperlakukan sampah plastik dengan penanganan yang benar dan hal-hal lainnya yang nantinya akan menjadi bekal hidup seorang anak di masa yang akan datang.
Penggunaan kembali barang yang berbahan Eco Friendly atau ramah lingkungan membuat kegiatan manusia menjadi jauh lebih sehat karena telah mengurangi sampah plastik yang menjadi masalah social di Indonesia. Masyarakat akan lebih memikirkan tentang kesehatan lingkungan karena telah menerapkan konsep Eco Green dalam kehidupan sehari harinya.
Selain dampak bagi lingkungan, Eco Green juga berdampak bagi kesehatan alam dan kesegaran lingkungan karena populasi sampah plastik yang mulai berkurang karena kesadaran manusia dan memberikan dampak yang signifikan bagi kesehatan udara di Indonesia, menjadi lebih bersih dan segar jauh dari polusi udara akibat tercemarnya sampah. Maka konsep Eco Green ini perlu di pertahankan dan dilakukan selama kapasitas sampah di Indonesia ini masih menjadi permasalahan yang ada di dalam kehidupan manusia. (Handaiyani: 2019).

Upaya Masyarakat dalam Memaksimalkan Penerapan Eco Green
Pengelolaan sampah menurut (Muhamad Fauzan, 2019) merupakan penanganan sampah secara keseluruhan agar sampah tersebut tidak mengganggu kesehatan, estetika, dan lingkungan. Penanganan tersebut mencakup cara mengolah, dan mendaur-ulang kembali.
Salah satu tantangan yang dihadapi terkait dengan permasalahan pengelolaan sampah adalah perilaku individual yang tercermin dari kebiasaaan dan keikutsertaan dalam upaya mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari seperti mengurangi pemakaian kantong plastik, sedotan platik, alat makan, botol air mineral sekali pakai dan lain sebagainya. Perilaku tersebut sangat mencerminkan tingkat pemahaman dan pendidikan masyarakat. Pendidikan diharapkan dapat memuat nilai-nilai perlindungan lingkungan sebagai bagian dari kurikulum sekolah tingkat dasar
Pengelola limbah terus mengandalkan pendekatan end-ofpipe, yaitu. sampah dikumpulkan, diangkut dan dibuang di tempat pembuangan akhir. Padahal, TPA dalam jumlah besar dapat melepaskan metana (CH4) yang dapat meningkatkan gas rumah kaca dan berkontribusi terhadap pemanasan global. Fakta bahwa tumpukan sampah terurai melalui proses alami membutuhkan waktu lama dan membutuhkan perawatan yang membutuhkan biaya besar. (Muhammad Fauzan, 2019).
Sebagai penghasil sampah plastik, masyarakat berperan penting dalam pengelolaan sampah. Salah satu bentuk peran masyarakat adalah memahami dampak dari sampah yang dihasilkan seperti pencemaran, sumber penyakit dan penyebab banjir. Masyarakat juga harus bisa memikirkan gaya hidupnya, seperti mengurangi sampah dengan menggunakan barang-barang yang tidak berakhir dengan sekali pakai, memilih barang-barang yang bisa digunakan dalam waktu lama.
Masyarakat harus bisa memilih barang dan jasa yang ramah lingkungan, misalnya dengan menggunakan kemasan yang ramah lingkungan. Masyarakat harus berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sampah plastik,. Selain itu, masyarakat juga harus berpartisipasi dalam pengembangan pengelolaan sampah berbasis 3R.
Penerapan Eco Green bisa dilakukan dengan pengolahan sampah berbasis 3R. yang di maksud dengan teknik pengolahan sampah berbasis 3R yaitu, Reduce (mengurangi) dapat diartikan sebagai sikap sehari-hari dalam pengurangan menimbulkan sampah, misalnya membatasi penggunaan bahan plastik dengan beralih ke bahan ramah lingkungan seperti kertas yang cepat terurai.
Selanjutnya Reuse (menggunakan kembali) artinya menggunakan kembali barang yang ramah lingkungan misalkan menggunakan kembali kemasan eco-friendly. Kemudian Recycle atau mendaur ulang dapat diartikan mengolah menjadi bahan lain yang bermanfaat, misalnya mendaur ulang sampah plastik menjadi kerajinan. (Risma Dwi, 2018).
Kantong plastik semakin menjadi sorotan di dunia yang menyebabkan banyak masalah yang ditimbulkan oleh kantong plastik. Sampah plastik dihasilkan mulai dari hal-hal kecil yang dilakukan oleh manusia seperti pembungkus makanan menggunakan bahan plastik, kantong pembelian rata rata saat ini juga menggunakan bahan plastik hingga peralatan rumah tangga dominan menggunakan plastik maka dari itu, masyarakat perlu disadarkan dengan menerapkan konsep Eco-Green dalam kehidupan sehari hari.
Gerakan Eco-Green adalah suatu bentuk kesadaran terhadap masyarakat yang mengarah pada kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan, namun jika konsep tersebut tidak tercapai, maka dapat dilakukan dengan cara paksaan dan dorongan yang kuat untuk melakukan program tersebut kepada masyarakat.
Dengan konsep Eco Green yang di laksanakan masyarakat dapat Membangun kesadaran masyarakat terhadap kesehatan lingkungan bukan hal yang serta merta dibutuhkan dalam jenjang pendidikan, tetapi hal tersebuat sangat penting untuk memelihara lingkungan. Penerapan Eco Green bisa dilakukan dengan pengolahan sampah berbasis 3R yaitu Reduce (mengurangi), Reusage (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang).
Oleh: Ajeng Ayu Lestari Lesman, Mahasiswa Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang
Daftar Pustaka
Farin, S. E. (2021). Penumpukan Sampah Plastik Yang Sulit Terurai Berpengaruh Pada Lingkungan Hidup Yang Akan Datang. OSF Preprints. September, 15.
Handaiyani, S., Wardhani, S., & Kartika, A. (2019). Gerakan Bersih Lingkungan Bertema “Green Eco-Park” Solusi Tepat dalam Hijaukan Lingkungan Kampus Fkip Um Palembang. Jurnal Abdimas Mandiri, 3(1).
Harimbi, S., & Satria, Y. (2020). Optimalisasi Pemanfaatan Nasi Aking Menjadi Plastik biodegradable untuk mengembangkan budaya eco green pada masyarakat di Kelurahan Mojolangu Kota Malang. Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri, 6(2), 18-23.
Harimbi, S., & Satria, Y. (2020). Optimalisasi pemanfaatan nasi aking menjadi plastik biodegradable untuk mengembangkan budaya eco green pada masyarakat di Kelurahan Mojolangu Kota Malang. Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri, 6(2), 18-23.
Jupri, A., Prabowo, A. J., Aprilianti, B.R., & Unnida, D. (2019). Pengelolaan limbah sampah plastik dengan menggunakan metode ecobrick di Desa Pesanggrahan. Prosiding PEPADU, 1, 341-347.
Marliani, N. (2015). Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga (Sampah Anorganik) Sebagai Bentuk Implementasi dari Pendidikan Lingkungan Hidup. Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 4(2).
Mulia, F. S. P., & Fauzi, R. (2021). Kampanye Public Relations “Ngopi tapi Go Green” di RBoJ Coffee. Jurnal Riset Public Relations, 39-56.
Putra, I. M. O. D., Sugiartha, I. N. G., & Suryani, L. P. (2021). Pengelolaan Sampah Plastik Rumah Tangga dalam Rangka Pencegahan Pencemaran Lingkungan (Study di Lingkungan Kelurahan Pedungan Kecamatan Denpasar Selatan Kota Denpasar). Jurnal Konstruksi Hukum, 2(1), 86-91. Putra, I. M. O. D., Sugiartha, I. N. G.,
& Suryani, L. P. (2021). Pengelolaan Sampah Plastik Rumah Tangga dalam Rangka Pencegahan Pencemaran Lingkungan (Study di Lingkungan Kelurahan Pedungan Kecamatan Denpasar Selatan Kota
Denpasar). Jurnal Konstruksi Hukum, 2(1), 86-91. Tamala, S., Hanifah, N. H., Zahrani, K., Galuh, S. T., Adji, F. B., & Husamah, H. (2022). Program go green in school: No plastic and greening. Jurnal Pendidikan Profesi Guru, 3(3), 100-104.


Kirim Tulisan Lewat Sini